Jumat, 29 Juli 2016

Ngentot Dengan Ayah Kandung Ku

Cerita Seks|Cerita Dewasa|Cerita Sex|Cerita Porno|Cerita Mesum |Cerita pemerkosaan|Cerita Skandal|Cerita Selingkuh|Cerita Dewasa Terbaru|Cerita Sex Sedarah|Cerita Sex ABG|Cerita Hot|Pengalaman Sex|Cerita Panas|Sex Ibu Kandung


Poker online BacanPoker.Com -

Aku adalah anak tunggal. Ibuku adalah

seorang wanita yang disiplin dan agak

keras sedangkan ayahku kebalikannya

bahkan bisa dikatakan bahwa ayah di

bawah bendera ibu. Bisa dikatakan

ibulah yang lebih mengatur segala-

galanya dalam keluarga. Namun,

walaupun ibu keras, di luar rumah aku

termasuk cewek bandel dan sering

tukar-tukar pacar, tentunya tanpa

sepengetahuan ibuku. Tapi suatu saat,

pada saat aku duduk di kelas 2 SMA,

ibuku pergi mengunjungi nenek yang

sakit di kampung. Dia akan tinggal di

sana selama 2 minggu. Hatiku bersorak.

Aku akan bisa bebas di rumah. Tak akan

ada yang memaksa-maksa untuk

belajar. Aku juga bebas pulang sore.

Kalau Ayah, yah.. dia selalu kerja

sampai hampir malam.

Pulang sekolah, aku mengajak pacarku,

Anton, ke rumah. Aku sudah beberapa

kali mengadakan hubungan kelamin

dengannya. Tetapi hubungan tersebut

tidak pernah betul-betul nikmat. Selalu

dilakukan buru-buru sehingga aku tidak

pernah orgasme. Aku penasaran,

bagaimana sih nikmatnya orgasme?

Singkat cerita, aku dan Anton sudah

berada di ruang tengah. Kami merasa

bebas. Jam masih menunjukkan angka

3:00 sedangkan ayah selalu pulang pukul

enam lewat. So, cukup waktu untuk

memuaskan berahi. Kami duduk di sofa.

Anton dengan segera melumat bibirku.

Kurasakan hangatnya bibirnya. "Ah.."

kurangkul tanganku ke lehernya.

Ciumannya semakin dalam. Kini lidahnya

yang mempermainkan lidahku.

Tangannya pun mulai bermain di kedua

bukitku. Aku benar-benar terangsang.

Aku sudah bisa merasakan bahwa

vaginaku sudah mulai basah. Segera

kujulurkan tanganku ke perut

bawahnya. Aku merasakan bahwa

daerah itu sudah bengkak dan keras.

Kucoba membuka reitsleting celananya

tapi agak susah. Dengan segera Anton

membukakannya untukku. Bagai tak

ingin membuang waktu, secara

bersamaan, aku pun membuka kemeja

sekolahku sekaligus BH-ku tapi tanpa

mengalihkan perhatianku pada Anton.

Kulihat segera sesudah CD Anton lepas,

senjatanya sudah tegang, siap

berperang.

Kami berpelukan lagi. Kali ini, tanganku

bebas memegang burungnya. Tidak

begitu besar, tapi cukup keras dan

berdiri dengan tegangnya. Kuelus-elus

sejenak. Kedua telurnya yang dibungkus

kulit yang sangat lembut, sungguh

menimbulkan sensasi tersendiri saat

kuraba dengan lembut. Penisnya

kemerah-merahan, dengan kepala

seperti topi baja. Di ujungnya

berlubang. Kukuakkan lubang kecil itu,

lalu kujulurkan ujung lidahku ke dalam.

Anton melenguh. Expresi wajahnya

membuatku semakin bergairah. "Ah.."

kumasukkan saja batang itu ke

mulutku. Anton melepaskan celana

dalamku lalu mempermainkan vaginaku

dengan jarinya. Terasa sentuhan

jarinya diantara kedua bibir

kemaluanku. Dikilik-kiliknya klitorisku.

Aku makin bernafsu. Kuhisap

batangnya. Kujilati kepala penisnya,

sambil tanganku mempermainkan

telurnya dengan lembut. Kadang kugigit

kulit telurnya dengan lembut.

"Nit, pindah di lantai saja yuk, lebih

bebas!"

Tanpa menunggu jawabanku, dia sudah

menggendongku dan membaringkanku di

lantai berkarpet tebal dan bersih.

Dibukanya rok abu-abuku, yang tinggal

satu-satunya melekat di tubuhku,

demikian juga kemejanya. Sekarang aku

dan dia betul-betul bugil. Aku makin

menyukai suasana ini. Kutunggu, apa

yang akan dilakukannya selanjutnya.

Ternyata Anton naik ke atas tubuhku

dengan posisi terbalik, 69.

Dikangkangkannya pahaku. Selanjutnya

yang kurasakan adalah jilatan-jilatan

lidahnya yang panas di permukaan

vaginaku. Bukan itu saja, klitorisku

dihisapnya, sesekali lidahnya

ditenggelamkannya ke lubangku.

Sementara batangnya tetap kuhisap.

Aku sudah tidak tahan lagi.

"Ton, ayo masukin saja."

"Sebentar lagi Nitt."

"Ah.. aku nggak tahan lagi, aku mau

batangmu, please!"

Anton memutar haluan. Digosok-

gosokannya kepala penisnya sebentar

lalu.. "Bless.." batang itu masuk

dengan mantap. Tak perlu diolesi ludah

untuk memperlancar, vaginaku sudah

banjir. Amboy, nikmat sekali. Disodok-

sodok, maju mundur.. maju mundur.

Aku tidak tinggal diam. Kugoyang-

goyang juga pantatku. Kadang kakiku

kulingkarkan ke pinggangnya.

Tiba-tiba, "Ah.. aku keluar.."

Dicabutnya penisnya dan spermanya

berceceran di atas perutku.

"Shit! Sama saja, aku belum puas, dia

sudah muntah," rungutku dalam hati.

Tapi aku berpikir, "Ah, tak mengapa,

babak kedua pasti ada."

Dugaanku meleset. Anton berpakaian.

"Nit, sorry yah.. aku baru ingat. Hari

ini rupanya aku harus latihan band,

udah agak telat nih," dia berpakaian

dengan buru-buru. Aku betul-betul

kecewa.

"Kurang ajar anak ini. Dasar egois,

emangnya aku lonte, cuman memuaskan

kamu saja."

Aku betul-betul kecewa dan berjanji

dalam hati tak akan mau main lagi

dengannya. Karena kesal, kubiarkan dia

pergi. Aku berbaring saja di sofa,

tanpa mempedulikan kepergiannya,

bahkan aku berbaring dengan

membelakanginya, wajahku kuarahkan

ke sandaran sofa.

Kemudian aku mendengar suara langkah

mendekat.

"Ngapain lagi si kurang ajar ini

kembali," pikirku. Tapi aku memasang

gaya cuek. Kurasakan pundakku dicolek.

Aku tetap cuek.

"Nita!"

Oh.. ini bukan suara Anton. Aku bagai

disambar petir. Aku masih telanjang

bulat.

"Ayah!" aku sungguh-sungguh

ketakutan, malu, cemas, pokoknya

hampir mati.

"Dasar bedebah, rupanya kamu sudah

biasa main begituan yah. Jangan

membantah. Ayah lihat kamu bersetubuh

dengan lelaki itu. Biar kamu tahu, ini

harus dilaporkan sama ibumu."

Aku makin ketakutan, kupeluk lutut

ayahku, "Yah.. jangan Yah, aku mau

dihukum apa saja, asal jangan

diberitahu sama orang lain terutama

Mama," aku menangis memohon.

Tiba-tiba, ayah mengangkatku ke sofa.

Kulihat wajahnya makin melembut.

"Nit, Ayah tahu kamu tidak puas

barusan. Waktu Ayah masuk, Ayah

dengar suara-suara desahan aneh, jadi

Ayah jalan pelan-pelan saja, dan Ayah

lihat dari balik pintu, kamu sedang

dientoti lelaki itu, jadi Ayah intip aja

sampai siap mainnya."

Aku diam aja tak menyahut.

"Nit, kalau kamu mau Ayah puasin,

maka rahasiamu tak akan terbongkar."

"Sungguh?"

Ayah tak menjawab, tapi mulutnya

sudah mencium susuku. Dijilatinya

permukaan payudaraku, digigitnya

pelan-pelan putingku. Sementara

tangannya sudah menjelajahi bagian

bawahku yang masih basah. Ayah segera

membuka bajunya. Langsung

seluruhnya. Aku terkejut. Kulihat penis

ayahku jauh lebih besar, jauh lebih

panjang dari penis si Anton. Tak tahu

aku berapa ukurannya, yang jelas

panjang, besar, mendongak, keras,

hitam, berurat, berbulu lebat. Bahkan

antara pusat dan kemaluannya juga

berbulu halus. Beda benar dengan

Anton. Melihat ini saja aku sudah

bergetar.

Kemudian Aku didudukkannya di sofa.

Pahaku dibukanya lebar-lebar. Dia

berlutut di hadapanku lalu kepalanya

berada diantara kedua pangkal pahaku.

Tiba-tiba lidah hangat sudah menggesek

ke dalam vaginaku. Aduh, lidah ayahku

menjilati vaginaku. Dia menjilat lebih

lihai, lebih lembut. Jilatannya dari

bawah ke atas berulang-ulang. Kadang

hanya klitorisku saja yang dijilatinya.

Dihisapinya, bahkan digigit-gigit kecil.

Dijilati lagi. Dijilati lagi. "Oh.. oh..

enak, Yah di situ Yah, enak, nikmat

Yah," tanpa sadar, aku tidak malu lagi

mendesah jorok begitu di hadapan

ayahku. Ayah "memakan" vaginaku

cukup lama. Tiba-tiba, aku merasakan

nikmat yang sangat dahsyat, yang tak

pernah kumiliki sebelumnya.

"Oh.. begini rupanya orgasme,

nikmatnya," aku tiba-tiba merasa

lemas. Ayah mungkin tahu kalau aku

sudah orgasme, maka dihentikannya

menjilat lubang kewanitaanku. Kini dia

berdiri, tepat di hadapan hidungku,

penisnya yang besar itu menengadah.

Dengan posisi, ayah berdiri dan aku

duduk di sofa, kumasukkan batang

ayahku ke mulutku. Kuhisap, kujilat dan

kugigit pelan. Kusedot dan kuhisap lagi.

Begitu kulakukan berulang-ulang. Ayah

ikut menggoyangkan pantatnya,

sehingga batangnya terkadang masuk

terlalu dalam, sehingga bisa kurasakan

kepala penisnya menyentuh

kerongkonganku. Aku kembali sangat

bergairah merasakan keras dan

besarnya batang itu di dalam mulutku.

Aku ingin segera ayah memasuki

lubangku, tapi aku malu memintanya.

Lubangku sudah betul-betul ingin

"menelan" batang yang besar dan

panjang.

Tiba-tiba ayah menyeruhku berdiri.

"Mau main berdiri ini," pikirku.

Rupanya tidak. Ayah berbaring di sofa

dan mengangkatku ke atasnya.

"Masukkan Nit!" ujar Ayah.

Kuraih batang itu lalu kuarahkan ke

vaginaku. Ah.. sedikit sakit dan agak

susah masuknya, tapi ayah

menyodokkan pantatnya ke depan.

"Aduh pelan-pelan, Ayah."

Lalu berhenti sejenak, tapi batang itu

sudah tenggelam setengah akibat

sodokan ayah tadi. Kugoyang perlahan.

Dengan perlahan pula batang itu

semakin masuk dan semakin masuk.

Ajaibnya semakin masuk, semakin

nikmat. Lubang vaginaku betul-betul

terasa penuh. Nikmat rasanya. Karena

dikuasai nafsu, rasa maluku sudah

hilang. Kusetubuhi ayahku dengan

rakus. Ekspresi ayahku makin

menambah nafsuku. Remasan tangan

ayahku di kedua payudaraku semakin

menimbulkan rasa nikmat. Kogoyang

pantatku dengan irama keras dan

cepat.

Tiba-tiba, aku mau orgasme, tapi ayah

berkata, "Stop! Kita ganti posisi. Kamu

nungging dulu."

"Mau apa ini?" pikirku.

Tiba-tiba kurasakan gesekan kepala

penis di permukaan lubangku kemudian..

"Bless.." batang itu masuk ke lubangku.

Yang begini belum pernah kurasakan.

Anton tak pernah memperlakukanku

begini, begitu juga Muklis, lelaki yang

mengambil perawanku. Tapi yang begini

ini rasanya selangit. Tak terkatakan

nikmatnya. Hujaman-hujaman batang

itu terasa menggesek seluruh liang

kewanitaanku, bahkan hantaman kepala

penis itupun terasa membentur dasar

vaginaku, yang membuatku merasa

semakin nikmat. Kurasakan sodokan

ayah makin keras dan makin cepat.

Perasaan yang kudapat pun makin lama

makin nikmat. Makin nikmat, makin

nikmat, dan makin nikmat.

Tiba-tiba, "Auh..oh.. oh..!" kenikmatan

itu meladak. Aku orgasme untuk yang

kedua kalinya. Hentakan ayah makin

cepat saja, tiba-tiba kudengar desahan

panjangnya. Seiring dengan itu

dicabutnya penisnya dari lubang

vaginaku. Dengan gerakan cepat, ayah

sudah berada di depanku. Disodorkannya

batangnya ke mulutku. Dengan cepat

kutangkap, kukulum dan kumaju-

mundurkan mulutku dengan cepat. Tiba-

tiba kurasakan semburan sperma panas

di dalam mulutku. Aku tak peduli. Terus

kuhisap dan kuhisap. Sebagian sperma

tertelan olehku, sebagian lagi

kukeluarkan, lalu jatuh dan meleleh

memenuhi daguku. Ayah memelukku dan

menciumku, "Nit, kapan-kapan, kalau

nggak ada Mama, kita main lagi yah."

Aku tak menjawab. Sebagai jawaban,

aku menggelayut dalam pelukan ayahku.

Yang jelas aku pasti mau. Dengan

pacarku aku tak pernah merasakan

orgasme. Dengan ayah, sekali main

orgasme dua kali. Siapa yang mau

menolak?

Sesudah itu asal ada kesempatan, kami

melakukannya lagi. Sementara mama

masih sering marah, dengan nada

tinggi, berusaha mengajarkan disiplin.

Biasanya aku diam saja, pura-pura

patuh. Padahal suaminya, yang menjadi

ayahku itu, sering kugeluti dan

kunikmati. Beginilah kisah permainanku

dengan ayahku yang pendiam, tetapi

sangat pintar di atas ranjang.



BacanPoker.Com adalah salah satu Agen Poker Indonesia yang terpercaya dengan beraneka ragam bonus yang menanti Anda. Segera Daftarkan diri Anda Disini dan dapatkan berbagai Bonus menarik


BacanPoker hadir kehadapan Anda dengan persentase mendapatkan BONUS JACKPOT lebih besar daripada Agen Poker Online Lainnya.


Silakan daftar di sini : CLICK UNTUK MENDAFTAR 

Contact Person :LiveChat : http://goo.gl/A2Z0aDYahoo : bacanpokercs04bbm : 55A52F68Wechat : CSBACANWhatsapp : +66622576841Line : CSBACAN_LINEFacebook : BACANPOKER

0 komentar:

Posting Komentar